Momo itu Tazmo...

Live high, Live mighty, Live life to the fullest

0 notes

19 Mei, Hari ‘Itu’

Sebuah meja di sudut ruangan tampak terisi. Tak jauh, 2 orang pelayan berbincang.
“Dari jam berapa emangnya?” tanya pelayan pertama.
“Kata Mas Ino sih dari abis makan siang. Nunggu orang katanya.” pelayan yang satunya menyahut.
“Ya ampun. Serius? Hari gini masih ada yang mau kaya gitu? Kalo gue, dah telat dikit aja, gue tinggal!”
Pembicaraan mereka terhenti saat mendengar suara ponsel berbunyi. Perlahan dan semakin kencang, sebuah ponsel berbalut merah-perak melantunkan lagu “Wish You Were Here” milik grup band “Incubus”, menandakan bahwa sang empunya mendapatkan panggilan. Tergopoh, Yudi, pemilik ponsel tersebut, berlari dari arah toilet, menghampiri meja itu, kemudian menjawab panggilan tersebut.

“Ya, Bay?” katanya menyapa.
“Lo lagi dimana? Kumpul, Yud! Anak-anak nanti malem pada dateng nih, maen futsal kaya biasa, di Planet Futsal. Lo dah lama kan ga ikutan. Ga kangen ama kita-kita apa ya?” Bayu langsung memberondong. “I can’t.” sahut Yudi pelan. Bibirnya membentuk sebuat garis melengkung. Tidak tersenyum. Kecut.
“Lah? Lo libur kan? Emang lo lagi dimana sih? Apa yang lebih penting dari menghabiskan waktu ama sohib-sohib lo ini sih?” Bayu berusaha bercanda. Ia menyiratkan bahwa Ia tau ada suatu hal yang tak beres.
“Today is May, 19th, Bay. Today is ‘that’ day.” Yudi memberikan penekanan pada kata ‘that’. Suaranya terdengar tegas, namun penuh ketidakyakinan.
“What!?” Bayu meninggikan suaranya, lalu menyambung, “Lo gila? Lo tau kan ga mungkin. She will not come, Yud. She doesn’t even care about you anymore. Damn, Yud! Biasanya lo ga pernah gamble untuk hal yang lo dah tau ga akan menang kan?”
“Ya, biasanya….” Yudi menyahut. Tapi belum selesai bicara, Bayu menyambar.
“Ya terus kenapa lo ada disana? Kenapa lo nunggu? Kenapa lo ngelakuin ini semua?” Bayu menanggapi.
“Lo tau rasanya punya sesuatu yang harusnya lo relakan, dan bahkan lupakan? Sesuatu yang lo sesali, sampai bikin lo ga nyenyak tidur, berhari-hari, bahkan sampai berbulan-bulan? Lo tau rasanya?” Yudi berujar setengah emosi.
“Gue ga tau rasanya.” Bayu menanggapi.
“Nah! So would you please let me sit and wait for her here?” Yudi melemah. “I know, Bay. Gue tau banget gue ga mungkin menang disini. But sometimes, you just want to gamble, not because you want to win. It’s simply because you want to sit there longer and see her, there, on the other side of the table. Sia-sia, tapi harapan ini yang bikin gue bisa tidur, biarpun sedikit. You know how much I love her.”
Bayu menghela nafas dari seberang, kemudian berujar pelan, “Ya, gue ngerti. Tapi gue cuma mo ngingetin, dia udah punya pacar. Dan ga mungkin dia dateng cuma buat lo ke HaagenDazz, Plaza Senayan. But, it’s your choice anyway. Kalo butuh gw kesana, kabarin aja yah sob.” “I will. Thanks, Bay.” Telepon ditutup.
“Masih nunggu, Mas?” seorang pelayan menyapa, “Kita udah mau tutup. Ga dateng yah yang ditunggu?”
Yudi tersenyum pahit, “Sepertinya tidak.”
“Seharian nunggu, akhirnya ga dateng? Wow! Sebelum pulang, ada banana split mas. Gratis.” pelayan itu menghidangkan menu tersebut sambil berlalu.
Yudi mengambil sendok. Menahan air mata yang berusaha menyeruak. “At least, gue mencoba. Ga salah kan yah?”

—- not from BB, this is Nokia E71 —-

0 notes

momomoPuisi #4: Ibu

Ibu,

malam belum juga luluh

kala kau memerah peluh

demi aku, demi cinta

untuk berikan aku tenaga melawan dunia

Ibu,

tanpa letih engkau melawan hari

tanpa ragu engkau menghamba diri

menjadi Kartini bagi aku

anakmu, yang kadang tak tahu malu

Ibu,

engkau ajarkan aku cinta

tentang cara memberi tanpa mengharap jasa

tentang hidup tanpa peduli dunia

tentang rasa yang tak ternilai harganya.

Ibu,

setiap hari aku bagai perempuan Indonesia,

yang kau lepas dari belenggu pembedaan,

engkai bagai terang cahaya

tuk menuntuk aku keluar dari kegelapan

terima kasih ibu,

dari anakmu, yang kadang tak tahu malu

0 notes

momomoCerita #6: Haruskah?

Lia menghadap cermin dan terdiam. Dipandanginya dalam lelaki yang ada di cermin, Dio, kekasihya yang sedang berpakaian. “Kamu harus pulang ya?” ujarnya lemah.

“Ya, begitulah.” sahut Dio pelan, namun penuh ketegasan.

“Aku rasanya ga bisa kaya gini terus, Yo. Aku sayang kamu, pingin milikin kamu. Tapi aku sadar, kita ya cuma bisa gini aja kan?” Lia berujar dengan suara yang lebih pelan lagi dari sebelumnya.

Keheningan sejenak meraja. Dio terduduk diam di ujung tempat tidur. Lia menghadap ke kaca rias, juga dalam bisu. Mereka masing-masing hanyut dengan pikiran masing-masing.

“Aku pulang dulu, Vina menungguku. Kami ada janji makan siang di Pantasteiik” Dio memecah keheningan.

“Yo, kamu harus nyebut nama Vina ya? Kamu tau, itu membuatku merasakan sakit, disini.” Lia menatap Dio dengan telunjuk di dadanya. Setetes air mata membasahi pipinya. Lia tertunduk.

Sambil menghampiri Lia, Dio berujar “Maaf. Aku hanya mau jujur sama kamu. Kamu satu-satunya yang tahu aku, luar dan dalam. Sama kamu aku ga perlu pura-pura, ga perlu bohong. Ga perlu…”

“Tapi buat orang lain, buat seluruh dunia, aku adalah kebohongan yang mereka ga boleh tau kan?” Lia memotong cepat. Suara terisi penuh emosi. Ia kemudian terisak.

Dio merangkul Lia. Mereka diam.

Ponsel Dio melantunkan lagu “Someone Like You” dari sudut ruangan. Cahayanya berpendar jelas dalam kegelapan kamar apartemen Lia. “Itu Vina,” ujar Dio, “Maaf, Lia. Aku harus pergi.” Dio lalu beranjak, mengambil ponselnya lalu bergerak meninggalkan ruangan. Sambil pintu ditutup, Lia masih bisa mendengar suara Dio, “Ya sayang, aku baru bangun…”

“Tuhan tidak pernah adil. Padaku dan pada orang lain seperti aku. Kenapa harus ada tembok besar yang bernama agama dan suku,” ujar Lia sambil mengatupkan tangan setengah berdoa, hampir tanpa suara.

0 notes

momomoCerita #5: Kamu salah satunya

Dengan malas, Hendra mengangkat ponselnya.

“Halo?” katanya saat si ponsel sudah menempel di telinganya.

“Hei, udah bangun? Jalan yuk!” ajak suara ceria di seberang sana.

Spontan Hendra terduduk, kemudian melihat layar ponselnya. Rini. Ternyata dia tidak berkhayal. “Hei, Rin, tumben ngajak aku. Pacar kamu kemana?” kata Hendra kemudian, sambil mengatur nafasnya.

————————————

Rini, sosok wanita idamannya. Hendra sudah berteman baik cukup lama, namun belum cukup lama untuk membuat Hendra berani menyatakan perasaanya. Ia menyukai gadis itu. Gadis itu selalu ceria dan membuat hidup Hendra berwarna. Namun sejak beberapa bulan lalu, ia sempat putus kontak karena Rini sudah memiliki kekasih yang tidak menyukai kedekatannya dengan Rini.

————————————

“Pacar? Ya ampun, Ndra, kamu dah segitunya ga perduli sama aku yah? Aku, yang temen baik kamu ini, udah 1 bulan menjomblo tauuuu!” seru Rini manja dari seberang sana. 

Setengah tidak percaya, Hendra berseru, “Masa sih?” yang kemudian ia pelankan, seolah tidak ingin terlihat bersemangat, “Kenapa putus? Kalian cocok banget lho.”

“Yakin tuh, kamu nganggep aku dan Rama cocok?” suara Rini terdengar jahil, yang kemudian disambung, “Dia kan ngelarang aku berhubungan sama kamu.”

Hendra tersenyum. Sambil tertawa kecil, ia menanggapi, “Ya ga masalah lah, Rin. Sebagai sahabat yang baik, aku kan mendukung kebahagiaan sahabat aku.”

“Kamu emang paling baik deh sedunia,” Rini merajuk.

“Udah deh, ga usah merajuk. Kamu mau merayakan kejombloan kamu ini dengan nraktir aku dimana?” tanya Hendra diplomatis.

“Aku pengen mencoba hal baru, yang aku sempat lewatin waktu aku akhirnya milih Rama jadi pacar aku,” Rini terdengar berandai-andai.

“Oh ya? Bukannya kamu bilang Rama itu cowo paling perfect dan bikin dunia kamu jadi berwarna?” Hendra kehilangan semangatnya.

“Waktu itu aku buta. Dia ngasih semua yang aku mau, manjain aku. Tapi sekarang aku nyesel,” ujar Rini pelan.

“Oh ya? Apa tuh contoh hal yang kamu sesalin?” tanya Hendra menyelidik.

“Banyak! Tidak menyatakan perasaan aku ke kamu adalah salah satunya!” seru RIni lugas dan cukup untuk membuat Hendra tersedak.

0 notes

Nyanyi #1: Ari - Dicintai ‘Tuk Disakiti

hanya air mata

dan sesal kurasa

didepan ku kau bercinta…

kau ingkari janjimu

‘tuk setia bersama ku

kini kau bunuh hatiku…

ho

ku tak ingin dengar ratapan mu

dan ku tak kan lagi menyentuhmu

pergi dan jangan kembali

kuingin sendiri…..

perjalanan panjang cinta kita

sekejap kau hancurkan segalanya

ini kah takdir untukku

dicintai ‘tuk disakiti….

ku tau kau masi sayang

dan menyesali segalanya

ho ho sayang maaf ku tak bisa

ho

ku tak ingin dengar ratapan mu

dan ku tak kan lagi menyentuhmu

pergi dan jangan kembali

kuingin sendiri….

perjalanan panjang cinta kita

sekejap kau hancurkan segalanya

ini kah takdir untukku

dicintai ‘tuk disakiti…

dan jangan kembali

kuingin sendiri

(perjalanan panjang cinta kita)

(sekejap kau hancurkan segalanya)

(inikah takdir untukku)

dicintai tuk disakiti….

0 notes

momomoCerita #4: I know this is useless, at least…

Waktu masih menunjukkan 04.30 saat Rino memacu motornya, satu tujuan saja yang ada di otaknya, membawakan sarapan pagi yang biasa dinikmati Deva, roti dan susu stroberi.

“Dev, pliss, angkat donk…” keluh Rino ketika panggilannya tidak kunjung dijawab.

“Hmm… Mungkin nomor yang satunya lagi,” gumamnya sambil memencet nomor lain di handphonenya. 

Masih tak terjawab. Jarum belum menyentuh angka enam. Hening. Rino hanya duduk terdiam di depan kos Deva, gadis yang membuat dia memacu motornya subuh hari, sekedar untuk mengantarkan sekerat roti dan sekotak susu stroberi. Ia mengharapkan senyum Deva, itu saja.

……………….

Sayup-sayup, Rino mendengar Incubus melantunkan Wish You Were Here, tanda ada panggilan yang masuk. Rino tersentak. “Ah, aku tertidur,” gumamnya. Sedetik Rino melirik jam tangannya, hampir jam 7. “Wah, lama juga aku tertidur. Siapa yang menelpon ya?”

Di layar handphonenya berkedip nama Ringgo, sahabatnya. Aneh, jarang dia menelpon jam segini.

“Kenapa, Nggo?” Rino menyapa.

“Feeling gue ga enak. Lo lagi dimana?” Ringgo menyahut cepat.

“Di depan kosnya Deva. Bawain dia sarapan,” Rino menyahut datar.

“Ya elah, lo tuh tolol apa bego? Deva bukannya lagi deket cowo baru? Ngabarin lo aja dah jarang kan?” Ringgo terdengar emosi.

“Sepanjang jalan gue juga udah mikirin itu koq. I know this is useless, at least, my heart says I have to. Gue pengen liat muka dia, meskipun akhirnya dia mungkin ga akan pernah lagi jadi punya gue,” suara Rino terdengar lemas. “Eh, dia keluar nih. Sambung nanti yah,” katanya lagi saat melihat Deva keluar dari kosnya.

“Rino, kamu ngapain?” Deva menyapanya lebih dahulu.

“Aku bawa ini, roti coklat dan susu kesukaan kamu,” jawab Rino sambil menyodorkan bungkusan yang dibawanya.

“Wow, this is so sweet. Thanks,” ujar Deva.

“Boleh ngomong bentar sebelum kamu kuliah?”

“Actually, I’m already late,” jawab Deva.

“Sebentar saja, please?” Rino setengah memelas. “Aku to the point aja ya, masih ada kesempatan kah buat aku? Buat kita? Aku masih sangat sayang kamu.”

Keheningan menyeruak. Deva menatap Rino dalam. Rino tertunduk, berusaha siap dengan jawaban yang sepanjang jalan tadi sudah dia bayangkan akan dia dengar dari bibir Deva. Tapi entah, dia masih belum siap.

“Rino, aku rasa aku sudah jatuh cinta sama orang lain,” suara Deva mengalun pelan namun penuh keyakinan.

“Oh. Ya, aku tahu itu. Ya udah, kuliah gih, ga enak klo kamu makin terlambat. Aku disini dulu bentaran,” Rino makin tertunduk. Matanya basah. Hatinya remuk. Deva masih terduduk diam. Rino mengumpulkan sisa harga diri yang dia punya, mengangkat kepala, tersenyum lalu bekata, “I wish you all the happiness. You deserve better.”

Dengan tepukan halus pada kepala Deva, Rino kemudian berlalu.

0 notes

momomoCerita #3: Ga rumit sih, tapi…

“Mau kamu apa sih sebenernya?” tanpa basa-basi Rindu langsung menyembur Dani di kantin. “Sabar donk. Duduk dulu. pasti capek kan?” Dani tetap santai. “Ga usah pake duduk deh. Mending ngomong langsung. Maksud kamu apa ngebatalin semua rencana yang udah kita susun sepihak gitu? Rencananya kan kita jalan ke Tidung sabtu ini. Koq kamu bisa seenaknya sms dan cuma bilang ‘Ke Tidung batal.’ gitu?” Rindu terdengar begitu berapi-api. “Kamu duduk dulu deh.” Dani berusaha menenangkan. “Aku punya penjelasannya koq. Kasih aku 2 menit. Kay?” Rindu masih berdiri. Kedua tangannya disilangkan di depan dada. Dia marah. Dani berdiri dan menghampiri Rindu. Sambil merangkulnya, Dani kemudian berkata lagi, “Tuh, coklat panas kesukaan kamu. Minum dulu gih.” Emosi Rindu sedikit mereda mengetahui kekasihnya ini masih memberi perhatian. Dia kemudian duduk, lalu berkata, “Jadi kenapa?” Tersenyum, Dani tidak langsung menjawab. “Apa sh? Kenapa pake senyam-senyum gitu deh? Mending langsung ngomong, daripada aku marah lagi dan pulang tanpa ngedengerin apa pun penjelasan kamu.” Dani berubah serius. Senyumnya hilang. “Kayaknya kita ga bisa lanjut kaya gini lagi deh. Aku…” Dani menggantungkan kalimatnya. Rindu terdiam. Mukanya berubah pucat. Sejuta pikiran mulai memasuki pikirannya. Air mata membasahi pelupuk matanya. Ia takut. Keheningan mulai menakutkan baginya, ia akhirna berkata, “Kenapa? Kamu bosen sama aku? Aku terlalu ribet ya?” Dani diam. Pelayan datang membawakan piring, “Mas Dani, ini pesanannya.” Sebuah kotak berwarna merah marun kecil ada di piring itu. Dani meraih dan membuka kotak itu. “Ga ribet sih, tapi aku udah ga tahan pengen ngelamar kamu…” Dani tersenyum. Rindu menangis, bahagia.

0 notes

momomoCerita #2: Mata Kuliah Tambahan

Dengan wajah kesal, Vian menghampiri meja Dio. “Pak Yanuar itu brengsek, tau ga. Dia kan centil banget tuh ke gw. Udah gw layanin, eh, nilai gua tetep aja cuma C.”

Dio tidak berpaling dari laptop. Dengan sedikit tersenyum nakal, “Ngelayanin? Emang udah ngasih apa aja sama Pak Yanuar?”. Dio memberikan penekanan pada kata ‘ngasih’.

Vian membanting bawaannya ke sofa, lalu duduk. “Sial, Lu! Lo kira gw cewe apaan, hah? Maksud gw tuh, gw udah nahan-nahanin hati ga ngebentak dia waktu dia bercentil ria ke gw. Dan sebenarnya itu bukan centil yah, sebagian besar udah menjurus ke pelecehan seksual. Baik banget kan gw?” respon Vian berapi-api.

Dion mengangkat kepalanya. Dia tersenyum, “Emangnya ngapain juga lo mesti ngeladenin kecentilannya? Yang penting, kalo lo bisa mata kuliah dia, kan santai aja.”

Vian bersandar sambil menengadahkan kepalanya. Dia terdiam. Di kepalanya berkelebat bayangan tentang mata kuliah statistika, mata kuliah Pak Yanuar. “Gw ga bisa statistika, Yo. I simply can’t.” jawab Vian kemudian, lemas, hampir tak terdengar.

Dio menutup laptopnya. Matanya serius menatap Vian. “Lo ga minta tolong gw sih.”

“Gw malu, Yo. Lo kan tau sendiri karakter gw. Lagian lo emangnya mau bantu?” jawab Vian lemas.

“Gw sih siap koq bantu. Cuma lo juga mesti siap dapet mata kuliah tambahan dari gw.” Dio tersenyum menenangkan.

“Tuh kan. Lo selalu gitu. Apa tuh tambahannya?” Vian terlihat kesal.

“Tambahannya? Mata kuliah berpacaran ama gw.” jawab Dio santai sambil membuka kembali laptopnya.

0 notes

momomoCerita #1: Senja di Pagi Hari

“Aku sedang menatap senja,” kata Maya lemah.

“Senja? Bukankah disana pagi hari?” Rudi merespon dengan suara bergetar. Pandangannya menerawang, berusaha membayangkan Maya, kekasihnya yang sedang sakit di Amerika.

“Ya, disini pagi, tapi aku selalu suka senja ini. Mengingatkan aku setiap hari bahwa hidup, pada akhirnya harus berakhir,” sambung Maya.

“Kamu jangan ngaco deh. Kan kamu disana berobat. Kamu pasti sembuh,” suara Rudi bergetar hebat. Tangannya semakin keras menggenggam Blackberry yang terhubung ke Maya.

“Aku sadar keadaanku, Rud. Waktuku ga panjang,” sahut Maya lemah.

Keheningan kemudian tercipta selama beberapa detik.

Setengah berdoa, Rudi kemudian berujar, “Kamu pasti sembuh. Dokter-dokter disana hebat-hebat. Peralatannya juga canggih. Mereka pasti bisa menyembuhkan kamu. Aku yakin, kamu juga harus yakin!”

“Aku hanya berusaha realistis dengan keadaanku sendiri. Aku tahu bahwa aku tidak bisa. Itu saja.” Maya mulai terdengar terisak.

“Kamu bisa. Kamu masih mau bertemu aku kan? Lagipula, itu lukisan fajar. Hidup yang selalu baru. Aku disini nunggu kamu May.” Rudi berujar yakin, namun terdengar lemah.

0 notes

Leather Case HP

11042012783

“Ini bungkus hp jelek amat sih?” suara mamaku menggelegar saat dia melihat leather case hpku yang sudah usang.
“Masih bisa dipake koq. Masih bagus. Masih bisa ngelindungin tau.” kataku tak mau kalah.
“Kalau udah jelek mending ganti. Kamu jg mending cari pacar lagi gih, daripada diem aja dirumah, ngabisin makanan.” ujar mamaku kemudian, yang sontak membuatku tertawa.

Setelah mama berlalu, aku terdiam. Cari pacar? Wow! Kalimat itu begitu dalam menamparku. Cari? Aku kemudian tersenyum miris dan terdiam. “Ma, aku sudah lelah mencari. Dan sudah kapok juga sakit hati. Aku menunggu takdir Tuhan saja, sambil menjalani hidupku langkah demi langkah.” teriak batinku, tanpa suara.

—- not from BB, this is Nokia E71 —-

0 notes

Leather Case HP

11042012783

“Ini bungkus hp jelek amat sih?” suara mamaku menggelegar saat dia melihat leather case hpku yang sudah usang.
“Masih bisa dipake koq. Masih bagus. Masih bisa ngelindungin tau.” kataku tak mau kalah.
“Kalau udah jelek mending ganti. Kamu jg mending cari pacar lagi gih, daripada diem aja dirumah, ngabisin makanan.” ujar mamaku kemudian, yang sontak membuatku tertawa.

Setelah mama berlalu, aku terdiam. Cari pacar? Wow! Kalimat itu begitu dalam menamparku. Cari? Aku kemudian tersenyum miris dan terdiam. “Ma, aku sudah lelah mencari. Dan sudah kapok juga sakit hati. Aku menunggu takdir Tuhan saja, sambil menjalani hidupku langkah demi langkah.” teriak batinku, tanpa suara.

—- not from BB, this is Nokia E71 —-

0 notes

Always!

Hujan sedang turun deras saat aku menjemputnya. “Udah siap?” tanyaku.
“Yuk…” katanya ceria, sambil mengambil payung yang tadi kubawa.
“Tante, anaknya aku culik dulu yaaa.” kataku setengah teriak, sekaligus bentuk pamit kepada orang rumahnya.

——— “Jadi kita mau kemana?” tanyanya sambil tersenyum.
“Simply having dinner. Kaya yang aku janjiin,” jawabku diplomatis, sambil berusaha menutupi rasa senangku.
“Owh,” katanya datar, tanpa ada lagi senyum.

Keheningan mewarnai perjalanan. Sampai parkiran, sambil memarkir mobilku, aku melempar pertanyaan, memecah keheningan, “Kamu masih suka coklat panas, kan?”
“Always!” jawabnya sambil melempar senyum kepadaku. —- not from BB, this is Nokia E71 —-